MINI RISET SPEECH DELAY

 


Tasya Rizqi Nim 209210065 

     Faktor-faktor Yang Menyebabkan Keterlambatan Bicara (Speech  Delay)Pada Anak Usia 2-5 Tahun identifikasi penyebab keterlambatan bicara perlu dilakukan untuk menentukan upaya yang tepat dalam pengelolaan dan upaya promotive kemampuan bicara anak. Kondisi dapat menjadi baik atau buruk juga ditentukan dari identifikasi penyebab masalah. Pedoman dalam mengidentifikasi penyebab banyak diulas oleh berbagai pihak dan disiplin ilmu. Pendekatan psikologi perkembangan  oleh  Hurlock  (2003)  mengemukakan  tentang  berbagai  penyebab terjadinya keterlambatan bicara antara lain sesuai dengan hasil temuan  adalah tidak adanya model yang baik bagi anak untuk ditiru, kurangnya motivasi anak serta, kesempatan yang tidak ada kuat untuk berbicara (Anggraini, 2011). Pendapat berbeda diungkapkan oleh Papalia (2004) yang  berfokus  pada  penyebab  genetik  dan  fisiologis  sebagai  faktor  yang  menyebabkan keterlambatan bicara pada anak. Hal ini berarti bahwa keterlambatan bicara anak menurut Papalia adalah disebabkan oleh adanya kecacatan fisik yang menyertai perkembangan anak.Perkembangan kognitif anak pada usia pra sekolah meliputi keterampilan berbahasa dengan cara menirukan secara spontan bahasa yang didengar (Hurlock, 2003). Terdapat dua macam peniruan oleh anak saat berbicara dan harus dibedakan dengan tepat.Pertama peniruan spontan bahasa orang lain seperti orang tua, dan kedua adalah peniruan yang dilakukan anak sesudah menerima perintah. Luaran pada kedua proses ini akan berbeda, pada jenis yang kedua anak akan cenderung menyederhanakan kata-kata yang dirasa lebih mudah baginya (Hoover, Sterling, & Storkel, 2011).Sehingga anak akan cenderung dapat berbicara dengan baik apabila memiliki model yang baik untuk ditiru. Seperti halnya dalam temuan penelitian berikut bahwa anak dengan keterlambatan bicara dapat disebabkan  karena  tidak  adanya  model  yang  dapat  ditiru  dan  diserap  oleh  anak  berkaitan dengan fungsi berbicara anak. Penelitian oleh Overby, dkk (2012) mengkaji tentang aspek keluarga pada anak dengan keterlambatan bicara. Anak dengan keterlambatan bicara sering terjadi pada anak dengan orang tua yang memiliki mobilitas tinggi, orang tua dengan masalah kesehatan, dan orang tua dengan perceraian. Faktor penyebab selanjutnya adalah motivasi anak yang kurang untuk bicara. Kondisi ini terjadi apabila anak merasakan bahwa secara psikologis bicara adalah sebagai ancaman (Miller & Schaaf, 2008). Hurlock (2003) menjelaskan apabila anak dengan motivasi yang kuat dalam belajar akan mengalami perkembangan lebih baik daripada anak dengan motivasi yang kurang. Belajar bicara merupakan proses yang terus menerus yang dilalui oleh anak, sehingga apabila anak mengalami hambatan, maka proses akan sedikit melambat (Hooveret al., 2011).  Anak dengan keterlambatan bicara menunjukkan sikap enggan untuk berbicara dan memilih untuk tidak berbicara (National Institute of Child Health and Human Development., 2006).

     Secara psikologis anak dengan keterlambatan bicara merasa bahwa penggunaan kata-kata  adalah rumit  baginya.  Anak  akan  mencoba  hingga  beberapa  kali,  namun  akan menghentikan usahanya ketika anak merasa ekspresinya tidak terbaca dengan baik oleh orang lain (Miller & Schaaf, 2008). Beberapa riset dilakukan untuk mengeksplorasi kemampuan anak dalam berbicara. Seperti halnya penelitian oleh Sawyer (2017) yang melakukan pengkajian terhadap motivasi anak dalam berbicara. Fakta penelitian yang ditemukan adalah anak dengan keterlambatan bicara tidak memiliki motivasi yang kuat untuk berbicara dibandingkan anak normal, kondisi ini berlangsung pada usia 2 tahun awal kehidupan (Sawyer, 2017). Tanda ini sering diabaikan oleh orang tua, karena anak dianggap lucu apabila hanya tersenyum dan tertawa  tanpa  mengeluarkan  kata-kata  (National  Forum  On  Early  Childhood  Program Evaluation, 2008).Selanjutnya, penyebab keterlambatan bicara adalah kesempatan yang kurang kuat dimiliki oleh anak untuk berbicara. Periode ini berkaitan dengan kesempatan mengeksplorasi keinginan  dan  perasaan,  serta  kesempatan  mendapatkan reinforcement. Hal ini terjadi apabila anak dalam kesehariannya dalam kondisi krisis, seperti orang tua dengan jam kerja tinggi, kakak yang kurang memberikan perhatian, atau anak tinggal dengan pengasuh tanpa ada stimulus (Pauli et al., 2014). Upaya  Penanganan  Yang  Dilakukan  Guru dan Orang  Tua  Untuk  Meningkatkan Kemampuan Anak Dengan Keterlambatan Bicara (Delayed Speech) PadaAnak Usia 2-5 Tahun Teori  perkembangan  psikososial  Erikson  menjelaskan  tentang  tugas  perkembangan pada  rentang  kehidupan  harus  dapat  dilaksanakan  dengan baik(Papalia,  2008).  Tugas perkembangan yang tidak terselesaikan dengan baik akan berpengaruh pada perkembangan kehidupan  selanjutnya.  Termasuk  pada  perkembangan  anak  dengan  keterlambatan  bicara. Kondisi ini perlu dilakukan upaya penanganan dengan tepat berdasarkan kondisi yang sedang dialami anak (Tarshis et al., 2007). Upaya penanganan harus dilakukan secara berkelanjutan dan  terjadi  komunikasi  yang  baik antara  pihak  sekolah  dan  orang  tua Hal ini bertujuan agar anak tetap mendapatkan  penanganan  yang  tepat  untuk  menunjang  peningkatan  kemampuan  yang diharapkan.Guru  sebagai  seorang  pendidik  memiliki  tugas  penting  dalam  memberikan  upaya penanganan  anak  dengan  keterlambatan  bicara.  Upaya  yang  bisa  dilakukan  guru  bisa  memberikan upaya penanganan anak dengan keterlambatan bicara. Upaya yang bisa dilakukan guru adalah bentuk stimulasi dan apresiasi pada anak pada setiap kemampuannya (Sayeki, Earle, Eslinger, & Whitenton, 2017). Stimulasi tersebut seperti tertera dalam temuan penelitian sebagai berikut :“Kegiatan awal sebelum pembelajaran adalah membaca surat-surat pendek. Upaya guru dengan memberikan stimulasi terus menerus memberikan kesempatan anak untuk melakukan refleksi dan meningkatkan kepercayaan diri. Peningkatan kepercayaan diri akan  meningkatkan  motivasi  anak  dalam  berbicara  (Hoover  et  al.,  2011).  Guru  dapat menggunakan berbagai pendekatan salah satunya adalah bermain peran (Siska, 2011). Metode bermain peran memberikan wahana bagi anak dalam melakukan pemahaman tentang peran yang dimainkan  serta  dorongan  dalam  mengekspresikannya  seperti  teman-teman  yang  lain. Pendekatan selanjutnya adalah pendekatan personal anak dan guru. Anak akan lebih mudah mengungkapkan hambatannya dan guru akan  lebih mudah memfasilitasi anak untuk berlatih berbicara (Tarshis et al., 2007).Selain guru, waktu anak dalam kesehariannya akan lebih banyak dengan orang tuanya. Rerata waktu anak dengan orang tua berdasarkan riset adalah 10 jam tatap muka (Davis et al., 2015). Waktu tersebut cukup bagi anak dalam melalui proses belajar, mengekspresikan emosi, dan  bersosialisasi.  Hurlock  (2003)menjelaskan  dengan  waktu  yang  cukup  intensif,  akan meningkatkan kemampuan bicara anak, Kedekatan orang tua dengan anak memberikan pengaruh dan motivasi kepada anak dalam  meningkatkan  kemampuan  berbicara  (Lunkenheimer  et  al.,  2007).  Sehingga  dapat disimpulkan jika kedekatan orang tua dan anak akan meningkatkan upaya orang tua untuk menyelesaikan masalah anak dengan keterlambatan bicara yangbertujuan untuk meningkatkan kapasitas verbal anak dalam berbicara.Hasil  Dari  Penanganan  Yang  Dilakukan  Guru dan  Orang  Tua  Untuk  Anak  Yang Mengalami Keterlambatan Berbicara (Speech Delay)Hasil dari upaya penanganan yang telah dilakukan oleh guru di sekolah beserta orang tua di rumah 

     Sesuai dengan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa gambaran umum gangguan keterlambatan berbicara (speech delay) pada anak usia 2- 5 tahun  di lingkungan sekitar rumah dalam  penelitian  ini  yaitu  kemampuan  anak usia 2 tahun dalam berbicara seperti  Pengucapan yang kurang sempurna pada kata kata tertentu, beberapa kata masih terlihat cadel termasuk dalam  kata  sederhana  pada  setiap  aktivitasnya sehingga menimbulkan penerimaan informasi yang tidak sesuai dengan maksud yang disampaikan anak dan artikulasi dan pengucapan kata yang hanya bisa dipahami orang orang terdekat, Tetapi ini tidak termasuk dalam speech delay sebab beriringnya waktu anak akan lebih mengasah berbagai kosa kata dan sesuai dengan  umurnya anak bisa berbicara dengan jelas dan dimengerti semua orang.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Aliran Psikologi Behavioristik (Tokoh Pandangan Terhadap Manusia, Teori Tentang Dinamika Perilaku Manusia)